Kamis, 01 Desember 2016

Kuasa Allah di ‘Rebo wekasan’


Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk. Berbagai idealisme membentuk kultur yang begitu pelik, rumit dan saling berhubungan. Kultur atau budaya ini diwariskan turun temurun mulai dari nenek moyang hingga anak cucu dan menjadi semacam keharusan.

Termasuk kepercayaan yang ada sampai sekarang adalah hari nahas di rabu terakhir bulan Safar. Dipercaya bahwa pada hari itu terdapat kesialan-kesialan yang turun ke bumi. Banyak masyarakat yang lantas melakukan ritual yang diyakini dapat menolak bala yang terjadi waktu itu.


Sial di Rebo wekasan

                Tidak ada yang tahu siapa penemu dan pencetus pertama Rebo wekasan, namun kepercayaan ini sejalan dengan deskripsi umum masyarakat indonesia yang sangat kental dengan kepercayaan dinamisme yakni, segala sesuatu mempunyai tenaga atau kekuatan yang dapat mempengaruhi keberhasilan atau kegagalan usaha manusia dalam mempertahankan hidup.

Baca Juga : Prinsip ham dalam Islam

                Keyakinan ini sejalan dengan kepercayaan Arab kuno yang juga meyakini terdapat kesialan di bulan Safar. Nabi Muhammad r juga mewanti-wanti para sahabat agar tidak terjerumus pada keyakinan ini. Menurut al-Hafidz Ibn Rajab al-Hanbali, banyak orang awam yang meyakini datangnya sial pada bulan safar, terkadang melarang bepergian. Meyakini datangnya sial pada bulan ini termasuk jenis thiyarah (meyakini pertanda buruk) yang dilarang.

                Rasulullah  bersabda: 
“Tidak ada penyakit menular. Tidak ada kepercayaan datangnya malapetaka di bulan Shafar. Tidak ada kepercayaan yang bersumber dari burung .” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam beberapa literatur, terdapat riwayat yang mengatakan bahwa pada hari rabu terakhir di bulan hijriah terdapat kesialan yang berkelanjutan, seperrti yang diriwayatkan oleh Waki’ dalam ­al-Ghurar, Ibnu Mardawaih dalam at-Tafsir dan Khatib al-Baghdadi.

أخر أربعاء في الشهر يوم نحس مستمر
“Rabu terakhir dalam sebulan adalah hari nahas terus menerus”
Hadis ini tidak bisa dijadikan dasar atas kesialan yang terjadi di bulan Safar, sebab kekuatan sanadnya lemah, namun hadis ini bisa dijadikan peringatan agar berhati-hati ketika mengerjakan sesuatu di bulan Safar. Memang benar hadis dhaif yang berbicara tentang akidah dan hukum (halal atau haram) tidak boleh dijadikan hujjah, tetapi boleh dijadikan dasar penyemangat dalam beramal dan berhati-hati.

Baca Juga : Pengertian isi dan sejarah sumpah pemuda

Ulama lantas mengklasifikasi bentuk kepercayaan pada kekuatan satu benda menjadi tiga macam. Barangsiapa meyakini bahwa api membakar dengan kekuatan panasnya, air menyegarkan dengan kekuatan segarnya maka ia tergolong kufur. Barangsiapa meyakini bahwa api tersebut membakar sebab kekuatan yang Allah titipkan padanya, maka ia tergolong bodoh dan fasiq. Barang siapa meyakini bahwa yang memberikan akibat hanya Allah r semata, sedangkan fenomena ‘membakar’ ketika api menyentuh kayu hanya sebagai kebiasaan umum saja, maka ia termasuk orang mukmin.


Imam Ibnu Farkah menuturkan dengan menyadur pendapat Imam Syafii “Bila ahli perbintangan meyakini bahwa yang menjadikan segala sesuatu hanya Allah r, hanya saja Allah r  menjadikan ‘sebab akibat’ dalam setiap kebiasaan maka keyakinan semacam ini tidak apa-apa. Yang bermasalah dan tercela adalah bila seseorang berkeyakinan bahwa bintang-bintang dan makhluk lain adalah yang mempengaruhi akan terjadinya sesuatu itu sendiri (bukan Allah)”.

                Tidak ada hari sial di bulan Safar dan di bulan-bulan lainnya, namun berhati-hati juga tidak ada salahnya. Yang perlu diperhatikan adalah keyakinan bahwa yang punya kuasa mutlak hanya Allah r  dan yang terpenting adalah mengisi hari-hari kita dengan perbuatan yang baik.

           Baca Juga : Perjuangan santri di 10 november, ultah hari pahlawan


                                                                                                                                


EmoticonEmoticon